Gengsi Dong Ah…

Pernahkah anda mendengar Pablo Picasso? Ia adalah pelukis yang sezaman dengan van Gogh. Boleh dibilang karyanya tidaklah lebih baik dari van Gogh, akan tetapi Picasso mampu menjelma menjadi pelukis paling kaya, mapan, dan terkenal di eranya. Picasso terkenal lihai dalam memasarkan lukisannya. Dalam satu kisah, Picasso sering mengundang para tamu untuk menghadiri pameran lukisannya yang terdiri dari orang-orang kaya dan terkenal, baik dari kalangan pejabat maupun sipil. Ada pengacara, pengusaha, dokter, walikota, dsb. Di kesempatan ini biasanya Picasso menjual lukisannya dengan cara lelang. Para tamu dikumpulkan dalam satu ruangan, kemudian Picasso mulai membuka harga lukisannya di depan mereka. Terjadi tawar menawar harga, dan apa yang terjadi kemudian? Picasso mampu menjual lukisannya dengan harga yang sangat mahal.

Biasanya cerita di atas dijadikan pelajaran bahwa strategi pemasaran begitu memegang peranan penting dalam kesuksesan. Di sini saya tidak akan membahas itu, melainkan sedikit tergelitik dengan ulah para tamu Picasso yang beradu gengsi dalam proses lelang. Tentu saja para tamu tersebut tidak mau kalah dalam memberikan penawaran tertinggi. Kondisi ruangan yang berisi para ‘pesaing’ lah yang membuat mereka seakan berebut prestise yang akhirnya tentu saja menguntungkan Picasso. Kisah ini bisa kita ambil pelajaran, bahwasannya level/derajat sosial dalam kelompok secara psikologis mampu membuat seseorang merasa tersaingi dan memberikan lebih.

Contoh sederhana dalam lingkungan sehari-hari adalah ketika kita menghadiri acara pernikahan. Ketika seseorang diundang ke acara pernikahan anak pejabat di hotel berbintang maka ia akan memaksa memberikan amplop ataupun hadiah yang lebih besar dibanding ketika menghadiri resepsi pernikahan orang biasa yang digelar di lingkungan rumah secara sederhana. Resepsi anak pejabat di hotel berbintang tentu dihadiri oleh para undangan dengan ‘kelas sosial’ yang lebih tinggi. Efeknya, kita tentu tidak ingin dipermalukan sehingga kita memberi yang terbaik yang kita bisa. Dengan kata lain, ada gengsi yang bermain di sana.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, gengsi berarti kehormatan dan pengaruh/harga diri/martabat. Dalam artian bahwa hal itu diawali rasa takut, takut akan kalah, takut akan malu, dan takut kalah bersaing sehingga mengusik jiwanya. Dua contoh di atas terjadi adu gengsi yang boleh dikatakan negatif. Namun pada dasarnya kita bisa gunakan hal tersebut ke arah positif untuk mengembangkan potensi diri lebih baik.

Dengan pemahaman yang ada, lingkungan orang-orang di sekitar kita tentu sangat berpengaruh terhadap apa yang kita bisa berikan. Dengan berada di sekolah yang berisi anak-anak cerdas misalnya, seseorang yang memiliki kecerdasan rata-rata tanpa sadar ia akan menjadi lebih cerdas ketimbang berada di sekolah yang muridnya memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Ketika kita bergaul bersama para santri atau remaja masjid yang gemar sholat, mengaji, sedekah maka sangat tidak enak jika kita tidak melakukan hal yang sama. Otomatis walaupun di awal gengsi berperan namun mampu memberikan dampak positif. Kita akan berlomba-lomba dengan orang-orang di sekitar kita, terjadi persaingan sehingga kita mampu memberikan lebih. We are forced to give our limit.

Sekarang tentukan tujuan anda, jika anda ingin menjadi pebisnis kaya, dekatkan diri anda ke lingkungan para pebisnis. Gunakan gengsi anda dan berikan lebih. Jika anda ingin manjadi pesepakbola, masuklah ke klub sepak bola yang bereputasi. Gunakan gengsi anda dan berikan lebih. Jangan malu adu gengsi jika itu bisa membuat anda lebih baik.

Akhirnya, saya pun teringat akan ‘janji’ yang selalu saya berikan ke orang-orang ketika ditanyakan kapan menikah. Dengan percaya diri saya selalu menjawab “2015“! Saya pun harus berlomba dengan waktu untuk mewujudkannya, kalau tidak? Gengsi dong ah!!

%d bloggers like this: