Ketercerabutan Sinetron Indonesia

Bagi anda generasi kelahiran 80-an atau diatasnya, mungkin pernah menikmati sinetron Indonesia yang begitu berkualitas. Kita pernah disuguhi akting menawan Cok Simbara, Ayu Azhari, dan Berliana Febrianthi dalam ‘Noktah Merah Perkawinan’, ada juga kisah cinta segitiga romantis dalam ‘Karmila’ (Paramitha Rusady, Teddy Syah, Attalarik Syah). Jika kalian penggemar sinetron laga/kolosal, tentu kagum akan drama ‘Brama Kumbara’ atau ‘Gunung Merapi’. Ya, apa yang saya sebutkan adalah beberapa contoh sinetron yang pernah menghiasi layar kaca kita pada tahun 90-an. Berkualitas dan menyajikan hiburan yamg mumpuni. Ketika kita tengok saat ini, betapa dalam satu dekade terakhir terjadi degradasi kualitas yang sangat tajam di sinetron-sinetron kita. Ada banyak faktor yang berperan, dan akan saya suguhkan beberapa diantaranya.

Pertama, episode stripping merusak kualitas akting. Di awal 2000-an, sinteron-sinetron dengan format stripping bermunculan. Kehadiran format ini adalah keniscayaan ditengah pesatnya pertumbuhan TV swasta nasional yang berujung pada ketatnya persaingan. Efeknya adalah, sinetron berubah menjadi tayangan yang mengejar rating dan pengambilan gambar tanpa diiringi kemantapan dalam menghayati peran. Syuting hari ini untuk ditayangkan esok. Berbeda dengan sinetron 90-an yang biasa tayang sekali dalam seminggu,  paling cepat dua kali. Para artis bisa memiliki waktu yang cukup dalam memahami bermacam adegan, menghapal script, dan menghayati peran sehingga memunculkan kualitas akting yang menawan. Barangkali Nikita Willy bisa seperti Dian Nitami, mungkin saja Dude Harlino lebih baik dari Cok Simbara, jika saja mereka memiliki waktu yang cukup dan tidak kejar tayang. Format stripping dengan ratusan episode bisa saja dilakukan, toh telenovela amerika latin biasa menyuguhkan ratusan episode dalam satu judul. Bedanya mereka mengudara ketika proses syuting sudah atau hampir selesai. Lihatlah perbedaan kualitas akting telenovela ‘Cinta Paulina’, ‘Casandra’, atau ‘Carita de Angel’ dibanding sinetron stripping kita, jauh bukan?

Kedua, plot yang tidak jelas endingnya. K drama memiliki jalan cerita yang jelas dari awal hingga akhir, Dorama menyuguhkan hal serupa, pun telenovela yang memikiki ratusan episode dengan rumitnya konflik dapat dibalut dengan alur yang memikat. Hal ini yang tidak ditemui pada sinetron kita. Awal dari semrawutnya plot sinetron kita adalah ketika ‘Tersanjung’ memperpanjang masa tayangnya karena tingginya rating. Jalan cerita yang sangat ciamik di season pertama terpaksa ditambah konflik yang tidak perlu sehingga menghasilkan cerita yang berbelit-belit. Akhirnya, ending sebuah sinetron hanya dipengaruhi oleh nilai rating. Rating tinggi maka konflik ditambah agar cerita semakin panjang, rating turun maka selesaikan konflik dan akhiri segera. Pemirsa yang di awal menikmati sinetron akhirnya dibuat frustasi karena kebosanan akut dan penantian panjang akhir cerita. Jangan salahkan jika akhirnya pemirsa lebih senang menikmati K drama, Dorama, bahkan serial India yang akhir-akhir ini sedang booming.

Ketiga, plagiat dengan cara norak. Hal yang lumrah ketika serial China “menjiplak” Dorama, K drama “meniru” Dorama, dan sebaliknya. Namun mereka melakukan hal tersebut dengan cara yang santun. Dengan ijin resmi dan hanya re-make tanpa mengubah plot yang signifikan. Hingga saat ini puluhan bahkan ratusan judul sinetron kita adalah hasil plagiat dari tayangan lain. Lebih buruk, bahkan tanpa ijin resmi dan mengubah jalan cerita seenaknya, padahal jelas-jelas melakukan penjiplakan. Sineas kita sudah kehabisan ide, mandul berkarya, dan mati idealisme. Padahal negeri ini kaya budaya, kaya sejarah, kaya karakter. Berbagai tema menarik bisa saja digali hanya saja malas mencari.

Terakhir, rating adalah dewa. Ini adalah sumber masalah utama. Media televisi berlomba-lomba mengejar rating untuk menarik iklan, menyebabkan banyak PH memproduksi sinetron yang memiliki potensi rating tinggi. Tidak peduli hanya mengandalkan kepopuleran artis, plagiat, dan menepikan kualitas. Pernah lihat kakunya akting penyanyi cantik (bukan raisa!)?, pernah menyaksikan mantan putri kerajaan Malaysia yang tidak bisa menghapak script? pernah nonton “bule” yang tidak bisa bahasa Indonesia lancar bermain sinetron? Itulah kenyataannya.

Siapa yang salah?

Tentu saja dua elemen utama yang patut dipersalahkan, media televisi dan pemirsanya. Media televisi yang rakus dan kapitalis diamini oleh pemirsa kita yang sebagian besar masih “lugu”. Sinetron bukan lagi tayangan yang menyenangkan melainkan tayangan yang menyebalkan. Kita tidak menuntut tayangan sinetron yang mendidik, namun berhentilah memproduksi sinetron dengan kualitas sampah. Kami merindukan ketercerabutan ini segera berakhir dan menghasilkan sinetron dengan kualitas yang baik. Syukur-syukur sinetron kita bisa belajar dari drama/serial negara lain yang mampu go internasional. Amin.

 

%d bloggers like this: