Stop Bullying

Akhir-akhir ini sering saya lihat di FB banyak teman men-share aksi bullying yang berakhir dengan naas. Banyak korban bullying terutama anak-anak yang tidak kuat menanggung beban hingga harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kasus ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun sudah menjadi ‘penyakit’ global di seluruh dunia. Sadar tidak sadar, kita mungkin pernah jadi korban atau pelaku bullying.

Apa itu bullying? Bullying adalah perilaku yang disengaja dan umumnya beralasan yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang ditujukan untuk menyakiti mental atau fisik seseorang (Carter, B.B & Spencer, V.G, 2006). Lebih jauh lagi, Argiati (2010) membaginya menjadi bullying fisik dan bullying verbal. Bukan hanya terjadi pada anak, namun banyak orang dewasa pun mengalami hal tersebut baik di tempat kerja, lingkungan, bahkan rumah. Walaupun tentu efeknya tidaklah sebesar bullying terhadap anak-anak

Sebagaimana statemen saya di atas, kita mungkin pernah menjadi pelaku atau korban bullying. Secara jujur saya mengakui bahwa saya adalah korban sekaligus pelaku bullying. Sebagai korban, saya adalah anak dengan kondisi muka yang berjerawat parah sejak SD hingga SMA. Mengalami cemoohan verbal dari lingkungan teman rumah maupun sekolah. Bertahun-tahun lamanya hingga begitu membekas dalam diri saya. Betapa masa remaja hanya dihabiskan dengan mencoba berbagai produk baik alami maupun kimia hanya untuk menghindar dari ejekan teman-teman. Ada kondisi fisik lain yang sering dibully, namun sebaiknya itu cukup menjadi rahasia saya karena tidak enak untuk di-share.

Faktanya, bullying verbal memang hanya ejekan, namun sebenarnya cukup menyayat hati dan dilakukan terus menerus. Membekas dalam diri? Tentu saja karena efek berbahaya dari bullying adalah kondisi mental yang sulit disembuhkan hingga dewasa. Salah satunya adalah ketidakpercayaan diri terus menerus, walau jerawat di muka saya sudah hilang dan muka jadi kinclong (yang ini dusta!), ada saja kekurangan fisik yang terlalu saya fokuskan sehingga membuat apapaun menjadi kurang.

Sebagai pelaku bullying, seringkali saya ikut-ikutan teman dalam mengejek seseorang. Hampir di setiap kelas dan setiap angkatan, selalu saja ada korban bullying fisik ataupun verbal. Ada yang berkacamata tebal, anak gendut, culun, dlsb. Yang pasti mereka juga mengalami efek yang mungkin berbeda. Ini diyakini bukan hanya terjadi di lingkungan kami, karna setiap lingkungan pasti tidak berbeda jauh kondisinya. Bahkan artis cantik sekelas Franda pun pernah menjadi korban hanya karena kondisi mata sipit keturunan tionghoa. Jika kita telaah kemungkinan efeknya, bisa jadi korban bullying fisik mengalami nyeri berkepanjangan, sakit di bagian organ tertentu, dan menjadi penakut. Bisa jadi korban bullying rasis menimbukan Ybs enggan bergaul dengan yang berbeda dan menciptakan kondisi yang terkesan eksklusif. Dan bisa jadi korban bullying verbal yang menyerang fisik membuat mereka tidak percaya diri, depresi, dan berujung pada aksi bunuh diri pada beberapa case.

Dengan banyaknya kasus-kasus bullying, sepatutnya hal ini menjadi perhatian bersama terutama untuk para pendidik dan orang tua. Jalinan komunikasi yang lebih intens antara orang tua dan anak harus dilakukan, sehingga perubahan pada anak akibat aksi bullying bisa terdeteksi lebih dini. Para guru pun harus lebih fokus terhadap anak didiknya, karena setiap kelas berpotensi ada tindakan bullying. Terakhir tentu regulator dalam hal ini pemerintah, bisa memasukkan ini dalam agendanya sehingga selain maraknya desakan untuk memasukkan pendidikan seks usia dini bisa juga kita tekan agar pendidikan efek bullying pada anak bisa tertampung dan terorganisasi.

Akhirnya, anda-anda baik korban atau pelaku bullying di masa lalu, mari kita tata mental agar efek negatif tersebut bisa terkikis. Dan berdoa semoga aksi bullying bisa diminimalisasi sehingga membentuk generasi dengan mental dan fisik yang lebih baik.

Saat ini saya masih berjuang memerangi bullying yang saat ini saya alami, bullying karena masih saja belum mendapatkan cinta raisa (duh!)

2 thoughts on “Stop Bullying

  1. eko saputro October 13, 2014 at 9:32 am

    wuiiiiih, blogger nih sekarang…

  2. febriantara October 13, 2014 at 9:38 am

    Udah lama sih ko, tp jarang post aje..

Comments are closed.

%d bloggers like this: