Manajer dan Sistem

Kekalahan Barcelona dua kali berturut-turut di semifinal Copa Del Rey dan lanjutan la liga pekan ke 26 dari seteru abadinya Real Madrid telah membukakan mata pecinta bola  sejagad mengenai sosok Guardiola, benarkah ia hanya beruntung menangani tim sesolid Barcelona? Ataukah memang Guardiola sosok pelatih jenius dalam sepak bola? Pertanyaan tersebut tentu saja terlontar bukan tanpa sebab, pasalnya dengan diisi pemain kaliber dunia dan sistem yang sudah tertata rapih, Guardiola hanya dianggap ‘menumpang’ kesuksesan. Bahkan sebagian kalangan berujar, Barcelona tetaplah juara siapapun pelatihnya. Benarkah?

Faktanya, sehebat dan sebaik apapun sebuah sistem, ia tak akan bekerja optimal tanpa manajer handal. Sebagaimana saya utarakan pada contoh di awal tulisan, sebagai klub sepak bola, Barcelona adalah sebuah sistem yang terdiri dari berbagai sub sistem didalamnya. Seorang pelatih sepak bola adalah seorang manajer yang membangun, mengembangkan, dan menjalankan sistem permainan, sistem pengembangan usia dini, sistem perekrutan staff pelatih dan pemain, serta banyak lagi. Jika kita merujuk ke belakang, kesuksesan Barcelona di era Guardiola tentu tak lepas dari peranan Johan Cruyft, ia adalah seorang yang membangun pondasi sistem yang diterapkan Barcelona saat ini, kemudian dikembangkan oleh Rijkaard, dan disempurnakan oleh Guardiola. Kita semua bisa melihat bahwa sistem yang sudah nyaris sempurna dikelola oleh Guardiola sejak 4 tahun lalu sehingga menghasilkan permainan yang terbaik di dunia, perlahan menurun sejak ia berhenti menjadi pelatih. Ditambah dengan absennya villanova sebagai orang paling mendekati Guardiola, saat ini Barcelona memang sedang kehilangan manajer handal. Jadi, masihkan menilai Guardiola menumpang kejayaan Barcelona?

Dalam organisasi apapun, sistem yang baik adalah syarat mutlak kesuksesan organisasi. Namun itu saja tidak cukup, tentu saja diperlukan manajer handal bertipe transformasional yang dapat menjalankan dan mengembangkan sistem yang ada. Meminjam pernyataan Jerry FitzGerald,  “suatu sistem adalah satu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu”.

Di tempat saya bekerja, sebagian besar sistem-sistem yang ada sudah sangat baik, seperti sistem K3, sistem recruitment, sistem pengembangan karyawan, dan sebagainya. Sayangnya ada saja tantangan dan hambatannya dikarenakan para manajer yang kurang cakap dalam menjalankan sistem tersebut. Apa akibatnya? Sistem jadi amburadul dan hasilnya tak sesuai dengan visi dan misi. Tak bisa sepenuhnya disalahkan karena ada banyak faktor eksternal yang mempengaruhi, akan tetapi kecakapan manajer tentu saja bisa dipertanyakan

Jika begitu banyak organisasi yang memiliki sistem yang baik tanpa didukung manajer handal, bagaimana dengan negara kita? Sejujurnya kebanyakan sistem dalam birokrasi kita itu buruk dan buruk sekali. Sangat sulit bagi siapapun pemimpin negeri ini untuk membangun negara yang maju tanpa membangun dahulu pondasi sistem pemerintahan yang baik, kokoh, dan stabil. Hal ini diperparah dengan berbagai sifat egois dari pemimpin baru dengan seenaknya merubah dan bahkan mengeliminasi sebuah sistem yang baik. Ambil contoh ketika era reformasi bergulir, beberapa sistem yang dibangun Pak Harto seperti posyandu, program KB, dan imunisasi polio benar-benar dihanguskan tak berbekas. Padahal masyarakat kelas menengah ke bawah yang benar-benar terkena dampaknya. Baru akhir-akhir ini saja program-program tersebut digalakkan kembali oleh pemerintahan SBY walaupun belum terasa geliatnya seperti era orde baru.

Pemimpin-pemimpin negeri ini harusnya tidak usah malu mengambil dan mengembangkan sistem baik yang sudah ada. Dengan tantangan era globalisasi saat ini, bahkan 73% korporasi dunia sepakat menyatakan bahwa mereka kekurangan manajer handal untuk menjalankan sistem organisasi. Jika organisasi tingkat dunia saja merasa kekurangan, bagaimana dengan negeri ini? Tentu kita tidak boleh pesimistis dan berharap pemilu 2014 bisa melahirkan manajer handal untuk membangun Indonesia sebagai sebuah organisasi besar.

Tidak perlu bermuluk-muluk berharap pemimpin mendatang membuat Indonesia digdaya di mata dunia, yang patut kita harapkan adalah mendapatkan pemimpin-pemimpin yang dapat membuat pondasi sistem pemerintahan yang baik dan mengembangkan serta menyempurnakan berbagai sistem baik yang sudah ada berdasarkan perkembangan zaman dan era globalisasi. Kita memerlukan sosok-sosok pemimpin layaknya Cruyft, Rijkaard, dan Guardiola agar negeri ini melesat menjadi negeri yang maju dan disegani dunia. Semoga saja🙂

2 thoughts on “Manajer dan Sistem

  1. gunkk March 25, 2013 at 2:53 pm

    Tulisan lu Risss?

  2. febriantarara March 29, 2013 at 4:50 am

    yap

Comments are closed.

%d bloggers like this: