Larasati

Dengung sayap capung mengaum menggetarkan ujung kelopak mawar menghitam. Bulir-bulir embun hinggap pada tangkai berjatuh tidak karuan. Seumpama pemangsa liar menelisik ke segala arah. Beberapa detik mematung. Hempasan angin berhembus perintahkan terbang gontai berbalut berat dan tua.

Larasati laras. Terang. Langkah langkahmu berderap membentuk jejak alunan nada suka. Pandanganmu lurus hanya kepada buku usang yang bercerita. Wajahmu tak berlapis bedak merona namun cahayanya luputkan bintang kejora. Datangnya angin mengibaskan mahkotamu yang bersahaja. Kemudian memicingkan mata sayumu yang berlindung kaca. Lemparkan senyum bibir ranum indah tertata. Hasilkan suara halus merdu berirama. Agaknya, sebuah bayangan telah kehilangan jasadnya.

Lara, ah jangan menyebut lara yang sedih. Aku tak pernah dan tak ingin melihatnya seperti itu. Tetaplah laras yang bermakna kesesuaian.

Larasati laras. Teruslah tersenyum. Seperti yang sudah sudah. Teruslah bermimpi. Seperti yang lalu lalu. Ksatria pegasusmu datang membawamu mengarungi lautan dalam dan lembah curam. Melewati desa desa perawan dan kota kota rupawan. Menerobos hutan hutan dan padang pasir tak bertuan. Datar menjelma bergelombang. Celaka. Mimpi hanyalah semalam.

Larasati laras. Redup. Bayang itu datang dari arah timur ruangmu yang gelap berlapis tirai. Bayang itu tidak datang untuk mencekikmu. Hanya ingin merasuk ke dalam ceria dan nelangsamu. Menghampirimu ribuan detik menerka bentuk rupamu. Kaku dan dingin tidak seperti es. Keras dan tegar bukannya baja. Nyalanya api tak kelihatan bara. Yang merunduk padi. Yang idaman penghuni langit. Yang bohong berlapis jujur. Yang buyarkan bayang itu dalam setiap perbedaan mimik wajahmu.

Larasati laras. Gelap. Laras laras laras. Kenapa gelap. Dimana penaku. Dimana cahaya lilin. Dimana cahaya purnama. Ah aku tak sanggup menulis lagi. Kibaslah tirainya.

%d bloggers like this: