Mari Bersikap Proyeksi dan Denial

Dalam mahakaryanya, Lolita, Vladimir Nobokov menceritakan seorang paruh baya bernama Humbert Humbert yang memiliki obsesi terhadap gadis kecil. Pada perkembangannya, obsesi seperti ini disebut phedophillia dimana seorang memiliki hasrat terhadap tubuh anak kecil. Perilaku Humbert dewasa tersebut disebabkan oleh berbagai faktor pemicu ketika masih kanak-kanak. Dalam penelitiannya, “Humbert Humberts Defense Mechanism in Vladimir Nobokov’s Lolita”, Duwi Wahyu Utami dan Moch Khoiri menganalisa 9 mekanisme pertahanan (defense mechanism) pada diri Humbert.

Mekanisme pertahanan adalah sebuah teori yang dijabarkan oleh ahli psikologi Sigmund Freud. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Sehingga, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat individu-individu melakukan peroses mekanisme pertahanan diri. Dari berbagai mekanisme pertahanan yang dikemukakan oleh Freud, saya ingin membahas 2 mekanisme pertahanan yang paling sering kita jumpai. Yang pertama adalah denial (penyangkalan), dimana seseorang berusaha menyangkal terhadap sesuatu yang mencemaskan dan membahayakan dirinya, hal ini bisa berupa ketidakjujuran dalam memberikan suatu pengakuan ataupun berusaha lari dari kenyataan. Yang kedua adala proyeksi, dimana seseorang berusaha menutupi segala kelemahan, kekurangan, dan keburukan dirinya dengan memproyeksikan kesalahan kepada pihak lain sebagai penyebab kegagalannya.

Seringkali pengalaman saya di Freeport menemukan kasus seseorang melakukan tindakan mekanisme pertahanan seperti ini. Misalnya saja ketika adanya insiden safety dimana saya dan beberapa rekan menggelar proses investigasi untuk menemukan akar masalah dan tindakan korektif. Seringkali ‘tersangka’ melakukan pembelaan diri, bahkan menjurus ke kebohongan. Patut dimengerti karena siapapun yang berada dalam kondisi tersebut pasti merasa terancam. Bagaimana nasib saya jika saya mengaku? Tindakan disiplin apa yang bisa dilimpahkan ke diri saya? Apakah saya bisa dipecat? Begitulah kira-kira yang ada dalam benak si ‘tersangka’.

Lebih parahnya dan lebih menyebalkan jika ‘tersangka’ melakukan 2 mekanisme pertahanan sekaligus, denial dan proyeksi. Beberapa waktu lalu bahkan seorang bawahan langsung saya melakukan tindakan seperti ini. Bagaimana ia bersilat lidah dengan menyangkal berbagai tuduhan, dan parahnya menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpanya. Bagaimana tidak, posisinya sedang terancam karena ia sedang dalam proses penilaian untuk naik level.

Dalam perspektif lebih luas, kita dapat melihat fenomena ini dari berbagai berita di media massa yang memberitakan begitu massif mengenai kasus korupsi 2 partai pemerintah akhir-akhir ini. Penyangkalan demi penyangkalan seringkali keluar dari mulut ‘tersangka’. Hampir tidak ada politikus yang dituduh korupsi langsung mengaku dan jujur akan perbuatannya. Semua ramai-ramai melakukan pertahanan diri, sebagian sudah terungkap kebenarannya  sedangkan sebagian lagi hanya tinggal menunggu waktu.

Sebuah partai agamis yang berisi anak muda penuh semangat pun tidak luput dari tindakan tidak sadar ini. Bagaimana terkagetnya semua elemen petinggi partai sehingga semua sama-sama membela. Sang presiden melakukan tindakan denial dengan menyangkal bahwa dirinya tidak bersalah sedangkan petinggi partai lain bahkan bersikap proyeksi dengan menyalahkan adanya konspirasi zionis, ulah USA, dan pihak lain yang menginginkan partainya hancur. Mereka-mereka seolah lupa bahwa segala hal keburukan maupun kegagalan dalam diri, pastilah ada yang salah dalam dirinya.

Jika sudah begitu, mengapa kita tidak ikut-ikutan saja melakukan tindakan defense mechanism ini? Mari bersikap denial dengan menutup mata bahwa negeri ini adalah negeri sarang koruptor, tidak memiliki kemampuan untuk ketahanan pangan, tidak pernah masuk piala dunia, dan banyak lagi. Mari kita bersikap proyeksi dengan selalu menyalahkan segala keterpurukan negeri ini karena ulah Amerika, Freeport, Zionis, Freemansory, dan lain sebagainya. Dengan melakukan tindakan-tindakan seperti itu niscaya bangsa kita bisa lebih ‘bahagia’ dan ‘meningkatkan harga diri’ dihadapan bangsa lain, walaupun tentu saja dengan cara menipu. Mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: