Korupsi Kita Semua

Hasi survey indeks prestasi korupsi yang dikeluarkan oleh Transparency International menempatkan Indonesia berada di posisi 126 dari 180 negara, sementara data dari PERC per 2008-2010, Indonesia diklaim sebagai Negara terkorup di Asia Pasifik, dari 16 negara yang disurvey, lebih buruk dari posisi Kamboja, Filipina, dan Vietnam. Hampir setiap pemberitaan mengenai peringkat korupsi Negara kita berada di posisi terdepan, HEBAT.

Lupakan tentang data-data tersebut, tidak ada gunanya mencaci maki kinerja pemerintah dalam memberantas korupsi dengan melampirkan data-data diatas. Lebih tidak berarti lagi jika kita berkoar di jalan sambil berteriak-teriak memacetkan jalan. Sadar atau tidak korupsi di negeri ini memang sudah sangat akut, dari tingkat desa sampai pusat, dari kurir lapangan hingga pejabat. Bukan hanya di pemerintahan dan kementrian, pengusaha dan perusahaan Negara pun sama-sama terlibat. Bahkan masyarakat tingkat bawah sekalipun.

Saya dan sebagian besar dari anda pun pernah atau mungkin sedang korupsi, yang membedakan hanyalah kesempatan dan besar kecilnya tingkat korupsi. Para pegawai pelaksana tender di Kementrian PU mungkin lebih ‘mudah’ korupsi dibandingkan perusahaan swasta yang memiliki regulasi lebih ketat untuk hal ini. Pun karyawan departemen pajak yang mengelola ratusan hingga triliunan rupiah pastinya godaan untuk korup jauh lebih tinggi dibanding pegawai PLN. Sebagian dari kita berada di tempat ‘basah’, yang lainnya ‘cukup basah, dan sisanya ‘kering’. Beruntunglah bagi kita yang bekerja di tempat ’kering’ dan berjuanglah untuk anda yang berada di tempat ‘basah’ karena jika anda berhasil maka pahala berlipat tentu akan didapat🙂

Anyway, saya yakin orang-orang yang pernah korupsi tidak sepenuhnya senang atas apa yang mereka lakukan. Sayangnya system yang ‘menjebak’ kita masuk ke dalam lingkup tersebut. Ambil contoh ketika seorang pengendara motor kena tilang di jalan, membayar ‘uang damai’ salah, tidak membayar pun hanya akan memindahkan pos korupsi dari polisi ke pengadilan. Pembuatan SIM dan KTP adalah contoh lain yang menggambarkan betapa korupsi merajalela sampai tingkat terendah.

Untuk meminimalisasi tingkat korupsi di sekitar kita, jadilah idealis semampu kita. Siapapun anda baik PNS, pengusaha, atau pegawai swasta pasti kesempatan korup itu ada. Contohnya di perusahaan saya bekerja kami disediakan tunjangan kacamata sebesar 1,3 juta. Beberapa waktu lalu saya pernah berpikir dengan uang itu saya bisa membeli 2 kacamata, satu untuk saya dan satu lagi untuk kakak saya. Hanya sedikit manipulasi di kuitansi maka semua beres. Apakah itu korup? Tentu saja karena kakak saya tidak memiliki hak. Contoh lain adalah tunjangan transportasi yang diberikan per tahun, akan hangus jika tidak digunakan. Sangat mudah untuk mengklaim uang tersebut dengan sedikit trik. Sepele, tapi betapa banyak orang enjoy saja melakukan hal ini. Tunjangan-tunjangan tersebut memang hak kita, namun penggunaannya tidak jujur. Sampai saat ini saya selalu menghindari tindakan-tindakan seperti itu, dan akan terus menghindar semampu saya.

Banyak sekali kasus serupa, ada yang jelas dan sebagian besar abu-abu. Terutama di lingkungan pemerintahan dan kementrian, betapa besarnya uang haram dibuat seolah-olah halal. Amin Rais dalam kuliah umum di UIN Ciputat beberapa waktu lalu bahkan berujar anggota dewan yang pelesir ke LN dengan kedok studi banding padahal alasan utamanya adalah supaya anggaran tidak hangus menjelang akhir tahun adalah termasuk korupsi. Anda setuju dan saya pun amat setuju.

Mari kita mulai dari diri sendiri dan keluarga kita untuk menghindari korupsi di sekitar kita, tentu dengan semampu yang kita bisa. Dan biarkan pemerintah dan instrument yang berkepentingan menindak segala macam indikasi korupsi kelas kakap, dengan cara hukuman terberat untuk menimbulkan efek jera. Untuk memberantas system yang sudah akut ini, jauh lebih mudah ‘menghabisi’ para koruptor besar yang tentunya akan menjalar ke tingkat bawah. Saya kok berandai-andai jika saja presiden kita membuat malu koruptor yang terbukti korupsi dengan mengaraknya di bundaran HI atau sekitaran Monas. Menjadikannya sebagai tontonan masyarakat dan melemparnya dengan telor busuk serta tomat sebelum eksekusi mati. Dan media meliputnya dengan luas menunjukkan bahwa inilah koruptor sang penghisap uang rakyat, akan jadi momen indah yang bisa jadi warning bagi para koruptor lain yang belum tertangkap. Tidak peduli KOMNAS HAM berteriak, dan masa bodoh dengan kecaman PBB dan dunia internasional. Kami hanya ingin keberanian dari kalian!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: