Mari Bersikap Lebih Adil Terhadap Freeport

Beberapa waktu lalu di Metro TV saya mendengar ada seorang politisi mewacanakan nasionalisasi Freeport di Papua, pun pemberitaan yang berkembang akhir-akhir ini tentang berbagai kasus di Papua khususnya di area kerja Freeport, telah banyak mengangkat kembali opini publik selama ini bahwa perusahaan tambang asal Amerika itu adalah musuh bersama yang harus dilenyapkan dari bumi Papua. Karena perusahaan itulah masyarakat Papua dan Indonesia miskin, perusak lingkungan, penghisap kekayaan negara, dan sumber utama kekayaan Amerika selama ini. Benarkah?

Sebesar apakah Freeport?

PT. Freeport Indonesiaadalah anak perusahaan dari Freeport McMoran Inc. yang berkantor pusat di Phoenix, USA. Sebagai perusahaan go public, kita tidak akan kesulitan mendapatkan data produksi maupun keuangan mereka. Semua tersedia di website www.fcx.com. Dalam laporan keuangan pada 2010, total revenue Freeport McMoran adalah USD 18,9 milyar atau 160 triliun rupiah, memproduksi total 3,8 milyar pounds tembaga dan 1,9 juta ounces emas. Pada tahun itu pula laba bersih perusahaan berkisar USD 4,2 milyar atau 35,7 triliun rupiah. Besar? Tentu saja. Namun tahukan anda bahwa Freeport McMoran ‘hanyalah’ perusahaan terbuka peringkat 7 untuk kategori tambang pada 2010 berdasarkan data dari Forbes. Vale, Rio Tinto, dan BHP Billiton adalah 3 perusahaan tambang terbesar yang memiliki revenue diatas USD 50 milyar. Freeport McMoran berada diatas Barrick Gold dan Newmont Mining Corp. Fortune 500 yang me-list 500 perusahaan terbaik dan terbesar AS menempatkan Freeport McMoran di posisi 154,  jauh dibawah Wall Mart, Exxon, Chevron, General Electric, dan Bank of America. Wall Mart sendiri pada 2010 mendapat total revenue USD 408 milyar sedangkan Exxon Mobil membukukan revenue USD 284,6 milyar sepanjang 2010, sangat jauh dibandingkan yang didapat Freeport McMoran. Untuk profit, 5 perusahaan terbesar AS memiliki profit diatas USD 10 milyar.

Data diatas adalah pencapaian Freeport McMoran sebagai induk PT Freeport Indonesia. Tambang di Papua sendiri berkontribusi sebesar 33,74% dari pendapatan keseluruhan Freeport yang memiliki tambang di Chili, Peru, AS, dan Kongo serta pabrik pengolahan di Spanyol. Total revenue PTFI adalah USD 6,3 milyar atau 53,5 triliun rupiah. Untuk pencapaian seperti itu, revenue PLN bahkan 2 kali lebih banyak dari PT Freeport Indonesia, jangan bandingkan dengan Pertamina yang per semester 1 2010 saja sudah membukukan revenue sebesar 223 triliun. Bahkan asset Freeport McMoran tidak lebih tinggi dari Pertamina, Bank Mandiri, BRI, dan BCA. Pun market value ASTRA Internasional jauh lebih tinggi dari Freeport.

Gambaran tersebut menunjukkan jika Freeport bukanlah raksasa yang tiada banding sehingga seakan-akan menjadi biang keladi kemiskinan negeri ini. Dengan BUMN yang memiliki asset dan potensi luar biasa sekarang saja keadaan negeri ini masih tidak membaik, bagaimana ada orang berpendapat dengan mengusir Freeport dari Papua bangsa ini akan kaya raya? Sayangnya, Freeport sudah overrated di mata masyarakat kita, memang bukan perusahaan liliput, namun tidak sebesar yang sebagian besar masyarakat kita gambarkan. Bahkan jika kita mau menelisik ke belakang, Freeport McMoran baru mencuat sebagai salah satu raksasa tambang setelah mengakuisisi Phelps Dodge Corp pada tahun 2007. Sebelum itu Freeport McMoran hanyalah perusahaan tambang tembaga yang tidak masuk 5 besar dunia, namun keputusan mengakuisisi Phelps Dodge, perusahaan tambang tembaga asal AS, membuat Freeport McMoran tercatat sebagai perusahaan tambang tembaga no 1 dan penghasil tembaga kedua terbesar di dunia setelah Codeco (Chili). Sebelum itu, penghasilan Freeport saja hanya 1/3 dari Phelps Dodge, artinya mereka bukanlah penghasil utama devisa AS. Dengan kondisi sekarang saja dimana revenue Freeport yang USD 18,9 milyar ‘cuma’ menyumbang 0,15% dari PDB AS. Lalu masihkah kita berpendapat Amerika dibangun dan kaya raya karena tambang Freeport di Papua?

Emas atau tembaga?

Banyak yang beranggapan bahwa Freeport harusnya adalah perusahaan tambang emas, bukan tembaga. Tidak salah memang karena hasil emas Freeport sangat signifikan di dunia. Namun tambang emas Freeport McMoran praktis hanya ada di Papua. 1,8 juta ounces atau 50 ton emas dihasilkan pada 2010. Terbesar? Tentu tidak. Untuk kelas single mine, Grasberg memang yang terbesar menyimpan kandungan emas, akan tetapi produksi tersebut hanya menempatkan Freeport sebagai penghasil emas no. 7 di dunia. Barrick Gold menghasilkan 220 ton emas pada tahun 2010 sebagai penghasil emas no.1 dunia. Disusul oleh Goldcorp, Newcrest, Newmont, Kinross Gold, AngloGoldAshanti, dan Gold Fields Corp.

Mari bersikap adil

Area kontrak karya Freeport di Papua yang seluas 2,6 juta Ha (8%) dari total wilayah Papua bukan pembenaran jika Freeport harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan Papua. Apalagi ada 2,8 juta penduduk yang memang sebagian besar masih dibawah garis kemiskinan. Dengan total penghasilan 53,5 triliun dan laba kotor sekitar 32 triliun pada 2010, tidaklah memungkinkan untuk membangun dan mensejahterakan seluruh masyarakat Papua. Dengan beroperasinya perusahaan tambang Freeport, setidaknya kabupaten Mimika bisa hidup, perekonomian berkembang, pun dengan taraf hidupnya. Tidakkah kita bisa mengambil poin positif dari hal ini. Pada 2010, total setoran Freeport ke pemerintah sekitar USD 1,9 milyar atau 16,1 triliun yang terdiri dari pajak, royalty, dan dividen. Jumlah ini relatif kecil karena hanya setengah dari APBN untuk papua pada tahun yang sama yakni sekitar 30 triliun rupiah. Jumlah yang sama dengan laba kotor PTFI. Lalu, masihkan berharap sebuah perusahaan mampu mensejahterakan 2,6 juta penduduk di daerah seluas 309.000 km2? Mengapa kita selalu menuntut Freeport, padahal Unilever misalnya, yang mendapat penghasilan 19 triliun pada tahun lalu tidak pernah dituntut dan disalahkan jika warga bekasi ada yang tidak sejahtera.

Mari berhenti mendiskreditkan Freeport, perusahaan, pekerja, maupun para pemegang saham didalamnya. Biar bagaimanapun, mereka sudah berkontribusi besar terhadap pembangunan di sebagian Papua. Tentu tidak lepas dari berbagai persoalan dan kasus yang pernah terjadi. Yang harus dilakukan sekarang bukanlah menuntut dan memprotes keberadaan mereka, dengan anggapan asing telah menggorogoti kekayaan kita. Sebagai owner tentu pemerintah Indonesia bisa lebih tegas dengan kemungkinan divestasi saham dan pembagian royalty yang lebih besar. Hal itu bisa dinegosiasikan karena ini BISNIS.

2 thoughts on “Mari Bersikap Lebih Adil Terhadap Freeport

  1. win November 17, 2011 at 7:39 pm

    Posting yang bagus🙂

  2. Fer March 23, 2012 at 1:34 pm

    tidak ada hubungan antara kekayaan Freeport dengan kemiskinan Indonesia…
    lha kan Freeport yg bekerja dan berusaha sendiri…

    klo Indonesia pingin kaya…ya beli saja sahamnya…
    atau ikut bergabung menjadi pegawai Freeport…

    Dimanapun anda hidup, kekayaan hanya lah bagi orang-orang yang bekerja cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: