Memaksimalkan peran pembimbing akademis

Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia entah itu PTN maupun PTS mengenal istilah pembimbing akademis (PA) untuk membantu mahasiswa di bidang akademik. Pembimbing akademis sendiri merupakan seorang dosen yang ditunjuk oleh universitas untuk membimbing mahasiswa, dan biasanya setiap PA membimbing 10-15 orang dalam tugasnya. Dra. Aryatmi Sisiwoharjono mengemukakan setidaknya ada 8 peran seorang pembimbing akademis, yaitu: (1) perencanaan studi, (2) pemilihan pekerjaan, (3) mengenal diri, minat dan bakat, kekuatan, kelemahan, kepribadian, hubungan dengan lingkungan, (4) memecahkan masalah, (5) mengenal nilai-nilai hidup, (6) hubungan sosial dengan temannya, (7) motivasi belajar, dan (8) penggunaan fasilitas.

Idealnya pembimbing akademis bisa memaksimalkan peran diatas, namun kenyataannya sebagian besar hanya menjalankan tugas secara administratif seperti penandatanganan KRS, kartu pembatalan mata kuliah, surat permohonan cuti akademik, surat permohonan pindah, surat ijin tdk mengikuti kuliah / praktikum karena sebab yang penting di luar sakit / musibah, permohonan untuk  mengikuti kuliah lintas prodi,  kartu rencana studi untuk  mengikuti kuliah di semester pendek, dan lain-lain. Memang hal ini banyak disebabkan beberapa faktor, diantaranya tidak ada pedoman bimbingan untuk para pembimbing akademis di universitas, tidak adanya program bimbingan yang jelas, kurangnya pengetahuan memadai mengenai prinsip bimbingan, pengembangan, dan psikologi, serta kurang aktifnya mahasiswa untuk berkonsultasi dengan pembimbingnya. Faktanya sering pembimbing akademis ini hanya sebagai formalitas, karena seringkali peran mereka hanya ada di awal semester dalam mengarahkan dan menyetujui rencana studi. Setelah itu? Saya pun berani bertaruh bahkan para pembimbing akademis banyak tidak mengenal dan hapal nama mahasiswa bimbingannya.

Untuk memaksimalkan peran pembimbing akademis, maka beberapa faktor tersebut diatas haruslah dicari jalan keluarnya. Komitmen dan keseriusan pihak universitas untuk memaksimalkan peran PA sangatlah penting demi tercapainya tujuan tersebut.

Pedoman bimbingan untuk pembimbing akademis

Tugas PA tidaklah ringan dan sebenarnya sangat krusial dalam membangun dan mengembangkan mahasiswa di universitas tersebut. Namun seringkali mereka tidak dibekali pedoman bagaimana program bimbingan seharusnya dilakukan. Prosedur yang jelas sangat dibutuhkan agar para PA memiliki pedoman dalam melakukan bimbingan. Universitas bisa mengeluarkan pedoman tersebut dalam bentuk buku misalnya, yang dibuat oleh pejabat di bidang kemahasiswaan dan dibantu oleh pakar psikologi. Selain itu, training dan sosialisasi bagaimana peran pembimbing akademis dari universitas kepada para PA tentu sangat membantu. Hal ini bisa dilakukan setiap tahun kepada para dosen yang ditunjuk sebagai pembimbing akademis.

Program bimbingan berkala

Ketika saya kuliah dulu, tidak ada yang namanya pertemuan berkala dengan PA untuk berkonsultasi masalah akademis. Juga tidak ada yang namanya review tertulis mengenai progress atau kemajuan belajar saya di universitas. Boleh dibilang, hampir semua teman mendapati hal serupa di kampus saya. Hal ini bisa menjadi gambaran bahwa mungkin saja persoalan ini dialami oleh sebagian besar perguruan tinggi lain di Indonesia. Pertemuan berkala, entah seminggu atau sebulan sekali, merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam sebuah proses bimbingan. Dari sana PA dapat mengenal lebih dekat dengan mahasiswanya, berkonsultasi dan memberikan nasehat, memotivasi serta mengarahkan minat dan bakat mahasiswanya. Keluhan dan masalah pribadi mahasiswa bukanlah hal yang tabu untuk dikonsultasikan ke pembimbing akademis jika memang hal tersebut dapat mengganggu konsentrasinya untuk kuliah. Untuk mahasiswa yang kurang mampu pun hal ini sangat berguna, misalnya dengan memberikan support dan informasi beasiswa agar meringankan beban mereka. Inilah pentingnya mengapa program bimbingan haruslah direncanakan secara matang.

Kurangnya pengetahuan memadai mengenai prinsip bimbingan

Boleh dibilang pihak universitas/fakultas/departemen menunjuk seluruh dosen untuk menjadi pembimbing akademis. Tidak sepenuhnya salah memang, namun perlu diingat bahwa tidak semua dosen memiliki kemampuan membimbing dengan baik. Bahwa setiap pebimbing akademis haruslah mengerti bagaimana melakukan pendekatan, melakukan interaksi personal, dan mencium bakat seseorang merupakan hal yang sepatutnya dimiliki. Universitas yang ideal tentunya membedakan keahlian para dosennya, ada dosen peneliti dan ada dosen pengajar. Masing-masing memang melakukan kedua aktivitas tersebut namun berbeda dalam hal porsinya. Jadi, alangkah lebih baik pembimbing akademis berasal dari dosen pengajar dan memiliki kemampuan seperti tersebut diatas.

Kurang aktifnya mahasiswa untuk berkonsultasi dengan pembimbing

Umumnya, mahasiswa hanya mengingat pembimbing akademis mereka ketika perkuliahan akan dimulai setiap awal semester. Sangat jarang seorang mahasiswa melakukan inisiatif untuk berinteraksi dan berkonsultasi dengan pembimbingnya. Hal ini berbeda ketika mereka berhubungan dengan pembimbing tugas akhir, mereka intens dan sangat sering berkonsultasi. Akibatnya seorang mahasiswa justru lebih dekat dengan pembimbing tugas akhirnya ketimbang pembimbing akademis. Tidak salah memang, namun hubungan dengan pembimbing akademis sepatutnya jauh lebih intens. Tidak usah malu melakukan konsultasi pribadi, jika hal tersebut dapat mempengaruhi kegiatan akademis.

Belajar dari Cambridge

Siapa tidak mengenal Universitas Cambridge? Di Britania universitas ini merupakan salah satu yang paling prestisius bersama dengan Universitas Oxford. Di tahun 2009 kemarin THES mengeluarkan ranking yang menempatkan Cambridge di urutan pertama mengalahkan Harvard. Sebuah universitas yang memiliki jumlah peraih nobel terbanyak di dunia. Dari manakah mereka mampu mempertahankan reputasi dunia tersebut? Salah satu ciri khas dan kelebihan Cambridge adalah dalam hal bimbingan. Cambridge adalah universitas, namun didalamnya berdiri puluhan college yang membangun universitas tersebut. College merupakan sebuah rumah tinggal yang kebanyakan adalah mahasiswa S1 dan dikelola oleh para fellow. Biasanya fellow ini juga merangkap sebagai pengajar di universitas. Fellow ini merupakan seorang pembimbing, layaknya pembimbing akademis di Indonesia. Mereka berinteraksi minimal 2 jam per minggu dengan mahasiswanya. Program bimbingan ini sangat intensif, karena biasanya hanya dihadiri oleh maksimal 2 orang mahasiswa. Tidak hanya masalah akademik, seperti mengerjakan assignment dan latihan soal, akan tetapi bimbingan juga dipakai untuk menelusuri minat dan bakat mahasiswa. Disinilah letak keunggulan Cambridge, mahasiswa biasa bisa terangkat dan mahasiswa cemerlang dapat terdorong untuk mencapai tujuan-tujuan jauh diatas tujuan mata kuliah itu sendiri. Tidak heran sampai saat ini 88 peraih nobel berasal dari Cambridge.

Kita memang tidak perlu menjiplak system Cambridge karena sangat sulit untuk diterapkan. Namun yang perlu dilakukan adalah inti dari system tersebut. Untuk kampus-kampus yang memiliki sumber daya yang berlimpah, seyogyanya program bimbingan menjadi perhatian serius dan memaksimalkan peran pembimbing akademis hendaknya segera dilakukan.

 

2 thoughts on “Memaksimalkan peran pembimbing akademis

  1. ria April 15, 2011 at 2:27 am

    maaf itu sumbernya dari mana y ? tolong kirim ke email

  2. noorhayati novayanti June 26, 2014 at 6:33 pm

    mbak, boleh tahu sumber pustakanya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: