Menghindari Paham Wahabisme dan Liberalisme

Muslim Indonesia yang berjumlah lebih dari 204 juta orang (88,1% dari jumlah penduduk), dewasa ini tengah menghadapi era teknologi informasi yang begitu masif. Imbasnya, betapa berbagai pemikiran atau paham begitu mudahnya menyebar tanpa adanya filter yang menyebabkan banyak muslim terjebak dalam fanatisme salah satu kelompok entah itu ekstrimis ataupun sekuler. Dua paham yang mewakili hal tersebut di negeri ini adalah paham wahabisme dan paham liberalisme.

Wahabisme adalah paham yang berkembang yang seakan menjadi ‘mahzab’ baru pada muslim Indonesia. Bukan hanya individu-individu yang aktif dalam penyebarannya, ada banyak media muslim yang berafiliasi, organisasi, dan bahkan terindikasi salah satu partai memiliki andil yang kuat dalam penyebarannya dengan dakwah berkedok manhaj salafi dengan kaderisasi yang sempurna. Ciri-cirinya adalah mereka sangat jahil dan gemar membid’ahkan bahkan mensyirikan amalan-amalan ahlussunah wal jama’ah (maulid, tawassul, tabarruk, zikir jama’ah, dll). Orang-orang yang fanatik terhadap paham ini tidak segan-segan mengkafirkan saudaranya dan terlalu reaktif dalam menghadapi satu isu dalam umat.

Sedangkan liberalisme banyak berkembang dengan dukungan pihak-pihak sekuler. Dengan lantang mereka mempermainkan dalil memakai logika. Memudahkan segala urusan tidak peduli padahal yang disentuh adalah permasalahan pokok dalam agama. Sehingga yang tampak adalah pemikiran menganggap seluruh agama adalah benar dan kelewat batas dalam memaknai arti toleransi sesungguhnya. Para dedengkot paham ini banyak memiliki organisasi, seperti JIL dan Freedom Institute.

Continue reading

Gengsi Dong Ah…

Pernahkah anda mendengar Pablo Picasso? Ia adalah pelukis yang sezaman dengan van Gogh. Boleh dibilang karyanya tidaklah lebih baik dari van Gogh, akan tetapi Picasso mampu menjelma menjadi pelukis paling kaya, mapan, dan terkenal di eranya. Picasso terkenal lihai dalam memasarkan lukisannya. Dalam satu kisah, Picasso sering mengundang para tamu untuk menghadiri pameran lukisannya yang terdiri dari orang-orang kaya dan terkenal, baik dari kalangan pejabat maupun sipil. Ada pengacara, pengusaha, dokter, walikota, dsb. Di kesempatan ini biasanya Picasso menjual lukisannya dengan cara lelang. Para tamu dikumpulkan dalam satu ruangan, kemudian Picasso mulai membuka harga lukisannya di depan mereka. Terjadi tawar menawar harga, dan apa yang terjadi kemudian? Picasso mampu menjual lukisannya dengan harga yang sangat mahal.

Biasanya cerita di atas dijadikan pelajaran bahwa strategi pemasaran begitu memegang peranan penting dalam kesuksesan. Di sini saya tidak akan membahas itu, melainkan sedikit tergelitik dengan ulah para tamu Picasso yang beradu gengsi dalam proses lelang. Tentu saja para tamu tersebut tidak mau kalah dalam memberikan penawaran tertinggi. Kondisi ruangan yang berisi para ‘pesaing’ lah yang membuat mereka seakan berebut prestise yang akhirnya tentu saja menguntungkan Picasso. Kisah ini bisa kita ambil pelajaran, bahwasannya level/derajat sosial dalam kelompok secara psikologis mampu membuat seseorang merasa tersaingi dan memberikan lebih.

Contoh sederhana dalam lingkungan sehari-hari adalah ketika kita menghadiri acara pernikahan. Ketika seseorang diundang ke acara pernikahan anak pejabat di hotel berbintang maka ia akan memaksa memberikan amplop ataupun hadiah yang lebih besar dibanding ketika menghadiri resepsi pernikahan orang biasa yang digelar di lingkungan rumah secara sederhana. Resepsi anak pejabat di hotel berbintang tentu dihadiri oleh para undangan dengan ‘kelas sosial’ yang lebih tinggi. Efeknya, kita tentu tidak ingin dipermalukan sehingga kita memberi yang terbaik yang kita bisa. Dengan kata lain, ada gengsi yang bermain di sana.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, gengsi berarti kehormatan dan pengaruh/harga diri/martabat. Dalam artian bahwa hal itu diawali rasa takut, takut akan kalah, takut akan malu, dan takut kalah bersaing sehingga mengusik jiwanya. Dua contoh di atas terjadi adu gengsi yang boleh dikatakan negatif. Namun pada dasarnya kita bisa gunakan hal tersebut ke arah positif untuk mengembangkan potensi diri lebih baik.

Dengan pemahaman yang ada, lingkungan orang-orang di sekitar kita tentu sangat berpengaruh terhadap apa yang kita bisa berikan. Dengan berada di sekolah yang berisi anak-anak cerdas misalnya, seseorang yang memiliki kecerdasan rata-rata tanpa sadar ia akan menjadi lebih cerdas ketimbang berada di sekolah yang muridnya memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Ketika kita bergaul bersama para santri atau remaja masjid yang gemar sholat, mengaji, sedekah maka sangat tidak enak jika kita tidak melakukan hal yang sama. Otomatis walaupun di awal gengsi berperan namun mampu memberikan dampak positif. Kita akan berlomba-lomba dengan orang-orang di sekitar kita, terjadi persaingan sehingga kita mampu memberikan lebih. We are forced to give our limit.

Sekarang tentukan tujuan anda, jika anda ingin menjadi pebisnis kaya, dekatkan diri anda ke lingkungan para pebisnis. Gunakan gengsi anda dan berikan lebih. Jika anda ingin manjadi pesepakbola, masuklah ke klub sepak bola yang bereputasi. Gunakan gengsi anda dan berikan lebih. Jangan malu adu gengsi jika itu bisa membuat anda lebih baik.

Akhirnya, saya pun teringat akan ‘janji’ yang selalu saya berikan ke orang-orang ketika ditanyakan kapan menikah. Dengan percaya diri saya selalu menjawab “2015“! Saya pun harus berlomba dengan waktu untuk mewujudkannya, kalau tidak? Gengsi dong ah!!

Ketercerabutan Sinetron Indonesia

Bagi anda generasi kelahiran 80-an atau diatasnya, mungkin pernah menikmati sinetron Indonesia yang begitu berkualitas. Kita pernah disuguhi akting menawan Cok Simbara, Ayu Azhari, dan Berliana Febrianthi dalam ‘Noktah Merah Perkawinan’, ada juga kisah cinta segitiga romantis dalam ‘Karmila’ (Paramitha Rusady, Teddy Syah, Attalarik Syah). Jika kalian penggemar sinetron laga/kolosal, tentu kagum akan drama ‘Brama Kumbara’ atau ‘Gunung Merapi’. Ya, apa yang saya sebutkan adalah beberapa contoh sinetron yang pernah menghiasi layar kaca kita pada tahun 90-an. Berkualitas dan menyajikan hiburan yamg mumpuni. Ketika kita tengok saat ini, betapa dalam satu dekade terakhir terjadi degradasi kualitas yang sangat tajam di sinetron-sinetron kita. Ada banyak faktor yang berperan, dan akan saya suguhkan beberapa diantaranya.

Pertama, episode stripping merusak kualitas akting. Di awal 2000-an, sinteron-sinetron dengan format stripping bermunculan. Kehadiran format ini adalah keniscayaan ditengah pesatnya pertumbuhan TV swasta nasional yang berujung pada ketatnya persaingan. Efeknya adalah, sinetron berubah menjadi tayangan yang mengejar rating dan pengambilan gambar tanpa diiringi kemantapan dalam menghayati peran. Syuting hari ini untuk ditayangkan esok. Berbeda dengan sinetron 90-an yang biasa tayang sekali dalam seminggu,  paling cepat dua kali. Para artis bisa memiliki waktu yang cukup dalam memahami bermacam adegan, menghapal script, dan menghayati peran sehingga memunculkan kualitas akting yang menawan. Barangkali Nikita Willy bisa seperti Dian Nitami, mungkin saja Dude Harlino lebih baik dari Cok Simbara, jika saja mereka memiliki waktu yang cukup dan tidak kejar tayang. Format stripping dengan ratusan episode bisa saja dilakukan, toh telenovela amerika latin biasa menyuguhkan ratusan episode dalam satu judul. Bedanya mereka mengudara ketika proses syuting sudah atau hampir selesai. Lihatlah perbedaan kualitas akting telenovela ‘Cinta Paulina’, ‘Casandra’, atau ‘Carita de Angel’ dibanding sinetron stripping kita, jauh bukan?

Kedua, plot yang tidak jelas endingnya. K drama memiliki jalan cerita yang jelas dari awal hingga akhir, Dorama menyuguhkan hal serupa, pun telenovela yang memikiki ratusan episode dengan rumitnya konflik dapat dibalut dengan alur yang memikat. Hal ini yang tidak ditemui pada sinetron kita. Awal dari semrawutnya plot sinetron kita adalah ketika ‘Tersanjung’ memperpanjang masa tayangnya karena tingginya rating. Jalan cerita yang sangat ciamik di season pertama terpaksa ditambah konflik yang tidak perlu sehingga menghasilkan cerita yang berbelit-belit. Akhirnya, ending sebuah sinetron hanya dipengaruhi oleh nilai rating. Rating tinggi maka konflik ditambah agar cerita semakin panjang, rating turun maka selesaikan konflik dan akhiri segera. Pemirsa yang di awal menikmati sinetron akhirnya dibuat frustasi karena kebosanan akut dan penantian panjang akhir cerita. Jangan salahkan jika akhirnya pemirsa lebih senang menikmati K drama, Dorama, bahkan serial India yang akhir-akhir ini sedang booming.

Ketiga, plagiat dengan cara norak. Hal yang lumrah ketika serial China “menjiplak” Dorama, K drama “meniru” Dorama, dan sebaliknya. Namun mereka melakukan hal tersebut dengan cara yang santun. Dengan ijin resmi dan hanya re-make tanpa mengubah plot yang signifikan. Hingga saat ini puluhan bahkan ratusan judul sinetron kita adalah hasil plagiat dari tayangan lain. Lebih buruk, bahkan tanpa ijin resmi dan mengubah jalan cerita seenaknya, padahal jelas-jelas melakukan penjiplakan. Sineas kita sudah kehabisan ide, mandul berkarya, dan mati idealisme. Padahal negeri ini kaya budaya, kaya sejarah, kaya karakter. Berbagai tema menarik bisa saja digali hanya saja malas mencari.

Terakhir, rating adalah dewa. Ini adalah sumber masalah utama. Media televisi berlomba-lomba mengejar rating untuk menarik iklan, menyebabkan banyak PH memproduksi sinetron yang memiliki potensi rating tinggi. Tidak peduli hanya mengandalkan kepopuleran artis, plagiat, dan menepikan kualitas. Pernah lihat kakunya akting penyanyi cantik (bukan raisa!)?, pernah menyaksikan mantan putri kerajaan Malaysia yang tidak bisa menghapak script? pernah nonton “bule” yang tidak bisa bahasa Indonesia lancar bermain sinetron? Itulah kenyataannya.

Siapa yang salah?

Tentu saja dua elemen utama yang patut dipersalahkan, media televisi dan pemirsanya. Media televisi yang rakus dan kapitalis diamini oleh pemirsa kita yang sebagian besar masih “lugu”. Sinetron bukan lagi tayangan yang menyenangkan melainkan tayangan yang menyebalkan. Kita tidak menuntut tayangan sinetron yang mendidik, namun berhentilah memproduksi sinetron dengan kualitas sampah. Kami merindukan ketercerabutan ini segera berakhir dan menghasilkan sinetron dengan kualitas yang baik. Syukur-syukur sinetron kita bisa belajar dari drama/serial negara lain yang mampu go internasional. Amin.

 

Stop Bullying

Akhir-akhir ini sering saya lihat di FB banyak teman men-share aksi bullying yang berakhir dengan naas. Banyak korban bullying terutama anak-anak yang tidak kuat menanggung beban hingga harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kasus ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun sudah menjadi ‘penyakit’ global di seluruh dunia. Sadar tidak sadar, kita mungkin pernah jadi korban atau pelaku bullying.

Apa itu bullying? Bullying adalah perilaku yang disengaja dan umumnya beralasan yang dilakukan oleh satu individu atau lebih yang ditujukan untuk menyakiti mental atau fisik seseorang (Carter, B.B & Spencer, V.G, 2006). Lebih jauh lagi, Argiati (2010) membaginya menjadi bullying fisik dan bullying verbal. Bukan hanya terjadi pada anak, namun banyak orang dewasa pun mengalami hal tersebut baik di tempat kerja, lingkungan, bahkan rumah. Walaupun tentu efeknya tidaklah sebesar bullying terhadap anak-anak

Sebagaimana statemen saya di atas, kita mungkin pernah menjadi pelaku atau korban bullying. Secara jujur saya mengakui bahwa saya adalah korban sekaligus pelaku bullying. Sebagai korban, saya adalah anak dengan kondisi muka yang berjerawat parah sejak SD hingga SMA. Mengalami cemoohan verbal dari lingkungan teman rumah maupun sekolah. Bertahun-tahun lamanya hingga begitu membekas dalam diri saya. Betapa masa remaja hanya dihabiskan dengan mencoba berbagai produk baik alami maupun kimia hanya untuk menghindar dari ejekan teman-teman. Ada kondisi fisik lain yang sering dibully, namun sebaiknya itu cukup menjadi rahasia saya karena tidak enak untuk di-share.

Faktanya, bullying verbal memang hanya ejekan, namun sebenarnya cukup menyayat hati dan dilakukan terus menerus. Membekas dalam diri? Tentu saja karena efek berbahaya dari bullying adalah kondisi mental yang sulit disembuhkan hingga dewasa. Salah satunya adalah ketidakpercayaan diri terus menerus, walau jerawat di muka saya sudah hilang dan muka jadi kinclong (yang ini dusta!), ada saja kekurangan fisik yang terlalu saya fokuskan sehingga membuat apapaun menjadi kurang.

Sebagai pelaku bullying, seringkali saya ikut-ikutan teman dalam mengejek seseorang. Hampir di setiap kelas dan setiap angkatan, selalu saja ada korban bullying fisik ataupun verbal. Ada yang berkacamata tebal, anak gendut, culun, dlsb. Yang pasti mereka juga mengalami efek yang mungkin berbeda. Ini diyakini bukan hanya terjadi di lingkungan kami, karna setiap lingkungan pasti tidak berbeda jauh kondisinya. Bahkan artis cantik sekelas Franda pun pernah menjadi korban hanya karena kondisi mata sipit keturunan tionghoa. Jika kita telaah kemungkinan efeknya, bisa jadi korban bullying fisik mengalami nyeri berkepanjangan, sakit di bagian organ tertentu, dan menjadi penakut. Bisa jadi korban bullying rasis menimbukan Ybs enggan bergaul dengan yang berbeda dan menciptakan kondisi yang terkesan eksklusif. Dan bisa jadi korban bullying verbal yang menyerang fisik membuat mereka tidak percaya diri, depresi, dan berujung pada aksi bunuh diri pada beberapa case.

Dengan banyaknya kasus-kasus bullying, sepatutnya hal ini menjadi perhatian bersama terutama untuk para pendidik dan orang tua. Jalinan komunikasi yang lebih intens antara orang tua dan anak harus dilakukan, sehingga perubahan pada anak akibat aksi bullying bisa terdeteksi lebih dini. Para guru pun harus lebih fokus terhadap anak didiknya, karena setiap kelas berpotensi ada tindakan bullying. Terakhir tentu regulator dalam hal ini pemerintah, bisa memasukkan ini dalam agendanya sehingga selain maraknya desakan untuk memasukkan pendidikan seks usia dini bisa juga kita tekan agar pendidikan efek bullying pada anak bisa tertampung dan terorganisasi.

Akhirnya, anda-anda baik korban atau pelaku bullying di masa lalu, mari kita tata mental agar efek negatif tersebut bisa terkikis. Dan berdoa semoga aksi bullying bisa diminimalisasi sehingga membentuk generasi dengan mental dan fisik yang lebih baik.

Saat ini saya masih berjuang memerangi bullying yang saat ini saya alami, bullying karena masih saja belum mendapatkan cinta raisa (duh!)

Larasati

Dengung sayap capung mengaum menggetarkan ujung kelopak mawar menghitam. Bulir-bulir embun hinggap pada tangkai berjatuh tidak karuan. Seumpama pemangsa liar menelisik ke segala arah. Beberapa detik mematung. Hempasan angin berhembus perintahkan terbang gontai berbalut berat dan tua.

Larasati laras. Terang. Langkah langkahmu berderap membentuk jejak alunan nada suka. Pandanganmu lurus hanya kepada buku usang yang bercerita. Wajahmu tak berlapis bedak merona namun cahayanya luputkan bintang kejora. Datangnya angin mengibaskan mahkotamu yang bersahaja. Kemudian memicingkan mata sayumu yang berlindung kaca. Lemparkan senyum bibir ranum indah tertata. Hasilkan suara halus merdu berirama. Agaknya, sebuah bayangan telah kehilangan jasadnya.

Lara, ah jangan menyebut lara yang sedih. Aku tak pernah dan tak ingin melihatnya seperti itu. Tetaplah laras yang bermakna kesesuaian.

Larasati laras. Teruslah tersenyum. Seperti yang sudah sudah. Teruslah bermimpi. Seperti yang lalu lalu. Ksatria pegasusmu datang membawamu mengarungi lautan dalam dan lembah curam. Melewati desa desa perawan dan kota kota rupawan. Menerobos hutan hutan dan padang pasir tak bertuan. Datar menjelma bergelombang. Celaka. Mimpi hanyalah semalam.

Larasati laras. Redup. Bayang itu datang dari arah timur ruangmu yang gelap berlapis tirai. Bayang itu tidak datang untuk mencekikmu. Hanya ingin merasuk ke dalam ceria dan nelangsamu. Menghampirimu ribuan detik menerka bentuk rupamu. Kaku dan dingin tidak seperti es. Keras dan tegar bukannya baja. Nyalanya api tak kelihatan bara. Yang merunduk padi. Yang idaman penghuni langit. Yang bohong berlapis jujur. Yang buyarkan bayang itu dalam setiap perbedaan mimik wajahmu.

Larasati laras. Gelap. Laras laras laras. Kenapa gelap. Dimana penaku. Dimana cahaya lilin. Dimana cahaya purnama. Ah aku tak sanggup menulis lagi. Kibaslah tirainya.

Manajer dan Sistem

Kekalahan Barcelona dua kali berturut-turut di semifinal Copa Del Rey dan lanjutan la liga pekan ke 26 dari seteru abadinya Real Madrid telah membukakan mata pecinta bola  sejagad mengenai sosok Guardiola, benarkah ia hanya beruntung menangani tim sesolid Barcelona? Ataukah memang Guardiola sosok pelatih jenius dalam sepak bola? Pertanyaan tersebut tentu saja terlontar bukan tanpa sebab, pasalnya dengan diisi pemain kaliber dunia dan sistem yang sudah tertata rapih, Guardiola hanya dianggap ‘menumpang’ kesuksesan. Bahkan sebagian kalangan berujar, Barcelona tetaplah juara siapapun pelatihnya. Benarkah?

Faktanya, sehebat dan sebaik apapun sebuah sistem, ia tak akan bekerja optimal tanpa manajer handal. Sebagaimana saya utarakan pada contoh di awal tulisan, sebagai klub sepak bola, Barcelona adalah sebuah sistem yang terdiri dari berbagai sub sistem didalamnya. Seorang pelatih sepak bola adalah seorang manajer yang membangun, mengembangkan, dan menjalankan sistem permainan, sistem pengembangan usia dini, sistem perekrutan staff pelatih dan pemain, serta banyak lagi. Jika kita merujuk ke belakang, kesuksesan Barcelona di era Guardiola tentu tak lepas dari peranan Johan Cruyft, ia adalah seorang yang membangun pondasi sistem yang diterapkan Barcelona saat ini, kemudian dikembangkan oleh Rijkaard, dan disempurnakan oleh Guardiola. Kita semua bisa melihat bahwa sistem yang sudah nyaris sempurna dikelola oleh Guardiola sejak 4 tahun lalu sehingga menghasilkan permainan yang terbaik di dunia, perlahan menurun sejak ia berhenti menjadi pelatih. Ditambah dengan absennya villanova sebagai orang paling mendekati Guardiola, saat ini Barcelona memang sedang kehilangan manajer handal. Jadi, masihkan menilai Guardiola menumpang kejayaan Barcelona?

Dalam organisasi apapun, sistem yang baik adalah syarat mutlak kesuksesan organisasi. Namun itu saja tidak cukup, tentu saja diperlukan manajer handal bertipe transformasional yang dapat menjalankan dan mengembangkan sistem yang ada. Meminjam pernyataan Jerry FitzGerald,  “suatu sistem adalah satu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu”.

Continue reading

Mari Bersikap Proyeksi dan Denial

Dalam mahakaryanya, Lolita, Vladimir Nobokov menceritakan seorang paruh baya bernama Humbert Humbert yang memiliki obsesi terhadap gadis kecil. Pada perkembangannya, obsesi seperti ini disebut phedophillia dimana seorang memiliki hasrat terhadap tubuh anak kecil. Perilaku Humbert dewasa tersebut disebabkan oleh berbagai faktor pemicu ketika masih kanak-kanak. Dalam penelitiannya, “Humbert Humberts Defense Mechanism in Vladimir Nobokov’s Lolita”, Duwi Wahyu Utami dan Moch Khoiri menganalisa 9 mekanisme pertahanan (defense mechanism) pada diri Humbert.

Mekanisme pertahanan adalah sebuah teori yang dijabarkan oleh ahli psikologi Sigmund Freud. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Sehingga, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat individu-individu melakukan peroses mekanisme pertahanan diri. Dari berbagai mekanisme pertahanan yang dikemukakan oleh Freud, saya ingin membahas 2 mekanisme pertahanan yang paling sering kita jumpai. Yang pertama adalah denial (penyangkalan), dimana seseorang berusaha menyangkal terhadap sesuatu yang mencemaskan dan membahayakan dirinya, hal ini bisa berupa ketidakjujuran dalam memberikan suatu pengakuan ataupun berusaha lari dari kenyataan. Yang kedua adala proyeksi, dimana seseorang berusaha menutupi segala kelemahan, kekurangan, dan keburukan dirinya dengan memproyeksikan kesalahan kepada pihak lain sebagai penyebab kegagalannya.

Seringkali pengalaman saya di Freeport menemukan kasus seseorang melakukan tindakan mekanisme pertahanan seperti ini. Misalnya saja ketika adanya insiden safety dimana saya dan beberapa rekan menggelar proses investigasi untuk menemukan akar masalah dan tindakan korektif. Seringkali ‘tersangka’ melakukan pembelaan diri, bahkan menjurus ke kebohongan. Patut dimengerti karena siapapun yang berada dalam kondisi tersebut pasti merasa terancam. Bagaimana nasib saya jika saya mengaku? Tindakan disiplin apa yang bisa dilimpahkan ke diri saya? Apakah saya bisa dipecat? Begitulah kira-kira yang ada dalam benak si ‘tersangka’.

Continue reading

Pembentukan Mental dalam Budaya Freeport yang Unik

18 November 2009 adalah salah satu hari paling emosional dalam kehidupan saya, bagaimana tidak 2 peristiwa paling menggairahkan sekaligus menakutkan terjadi pada hari ini. Yang pertama adalah, tanggal tersebut adalah hari dimana saya mendapatkan kekasih yang sangat diidamkan, dan kedua adalah hari dimana saya harus terbang ke tanah papua. Bergabung bersama perusahaaan yang sudah saya impikan semenjak kuliah, PT. Freeport Indonesia. Tempat yang awalnya saya harapkan dapat membentuk mental saya menjadi lebih tangguh.

Lahir di Jakarta, besar di Tangerang, kuliah di Depok, dan bekerja di Karawang, menjadi alasan utama saya ingin merantau ke tempat jauh selama beberapa waktu dan mendapatkan pengalaman baru. Pada hari menjelang keberangkatan saja mental saya sudah diuji, yakni hampir semua tetangga saya menyayangkan keputusan ibu saya yang mengijinkan saya pergi. Bahkan salah satu tetangga mengatakan “ ya gimana gak diterima kerja di sana, orang di sana pada ditembak-tembakin” %_@. Tentu saja ibu saya menangis sampai berhari-hari melepas anak cowo satu-satunya ini.🙂

Budaya kerja di site Freeport Papua itu sangat unik. Sangat berbeda dengan budaya kerja manapun di Indonesia. Selama 3,5 tahun bergelut dalam budaya ini, saya semakin belajar banyak mengenai leadership dan social relationship. Keunikan budaya kerja di Freeport terletak pada Sumber Daya Manusianya (SDM), terdiri dari berbagai komunitas suku, tuntutan hak yang sangat berlebihan serta tidak ditunjang pemenuhan kewajiban, dan rata-rata tingkat intelektualitas yang masih rendah. Hal-hal tersebut ter-mix menjadikan suasana kerja penuh tantangan, gairah, dan tentu saja menyebalkan. Beberapa buku mengenai organizational behavior dan leadership yang sempat saya baca, nyaris mustahil diterapkan di sini. Diperlukan sesuatu pendekatan yang berbeda dan hanya bisa dilakukan secara bertahap dan penuh kompromi.

Puncak dari pembelajaran mental yang saya alami adalah ketika terjadi pemogokan massal karyawan pada akhir 2011 lalu. Bagaimana saya dan banyak staff lain akhirnya menyadari dan belajar banyak hal sehingga beralih dari membela satu pihak ke pihak lain. Lalu dengan suasana kerja yang tidak kondusif, dan ditambah lagi menambahnya ego dari pihak yang merasa ‘menang’. Sebelum itu, saya pribadi hampir goyah dalam menghadapi atasan yang ‘egois’, lelah, dan hampir saja saya harus pulang dengan kekecewaan dan dendam.

Berbagai hal tersebut memang disadari telah menambah kekuatan mental saya. Dengan membawahi hampir 100 karyawan dengan budaya kerja yang unik seperti saya utarakan di atas, saya telah melalui berbagai macam ujian dan tantangan. Mendapat perlakuan kasar dari bawahan, membuat sistem sederhana yang dapat dimengerti, menelanjangi idealisme, dan banyak lagi.

All have the risks, tentu saja hal yang bisa saya dapat tetap saja selalu ada pengorbanan, mulai dari hubungan asmara yang kandas tidak sampai satu tahun, ilmu mekanikal yang nyaris tidak terpakai, sampai tingkat inteletual saya yang sepertinya menurun seiring bertambahnya waktu. Entah sudah merasa cukup atau belum, namun janji saya untuk kembali bekerja di pulau Jawa tetap akan terpatri dalam diri. Time will tell🙂